Warisan Budaya Tak Benda

Ditetapkan tingkat Provinsi Jawa Barat · 2020

Peuyeum Bandung

Fermentasi singkong warisan kearifan lokal Bandung — manis, sedikit asam, dan menghangatkan badan.

Foto Peuyeum Bandung

Kenapa jadi Warisan Budaya Tak Benda?

Peuyeum Bandung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2020 di tingkat Jawa Barat. Peuyeum Bandung diakui sebagai WBTB karena dinilai memenuhi syarat sebagai bentuk kearifan lokal dalam ketahanan pangan masyarakat Sunda yang sudah bertahan selama berabad-abad.

Sejarah

Sejarah peuyeum tidak bisa dilepaskan dari melimpahnya komoditas singkong (sampeu) di wilayah tatar Sunda sejak zaman kolonial. Pada abad ke-19, ketika persediaan beras menipis atau terjadi paceklik, masyarakat memanfaatkan singkong sebagai makanan pokok alternatif.

Agar singkong tidak cepat membusuk setelah dipanen, masyarakat Sunda menerapkan teknik fermentasi menggunakan ragi. Melalui proses ini, singkong tidak hanya bertahan lebih lama (awet), tetapi juga menghasilkan cita rasa baru yang manis, sedikit asam, berserat lembut, dan memberikan efek menghangatkan tubuh — sangat cocok dengan iklim Bandung yang dahulu cenderung dingin. Kawasan Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dikenal sebagai salah satu sentra tertua penghasil peuyeum yang memasok kebutuhan kuliner di Kota Bandung sejak awal abad ke-20.

Potensi alergen Peuyeum Bandung

  • Singkong Fermentasi

Berlaku umum untuk hidangan ini — racikan tiap warung bisa berbeda. Konfirmasi langsung ke penjual bila kamu punya alergi tertentu.